HOME PROFIL DAN SEJARAH PENGURUS AD / ART PROGRAM KONTAK
IKATAN ALUMNI LEMHANNAS
IKATAN ALUMNI LEMHANNAS IKATAN ALUMNI LEMHANNAS
Minggu, 5 September 2010
ARTIKEL Space Iklan
INDEX ARTIKEL
Konvensi Nasional II Tahun 2004
Wawasan Kebangsaan dan Sosok Pemimpin Nasional
Sambutan Pada Pembukaan Konvensi Nasional II Ikatan Alumni Lemhannas(IKAL)
National Convention 2003
Mengatasi Multi Krisis, Mengakhiri Masa Peralihan, Visi Kepemimpian Indonesia Masa Depan
Arsip Artikel
CARI ARTIKEL

Tempat Iklan
Tempat Iklan
Tempat Iklan
Tempat Iklan
Jumat, 2 April 2004

Sambutan Pada Pembukaan Konvensi Nasional II Ikatan Alumni Lemhannas(IKAL)

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara-saudara Ketua, Wakil Ketua dan para Anggota Lembaga Tinggi Negara, Saudara Para Menteri Kabinet Gotong Royong, Para Gubernur Kepala Daerah, dan Pimpinan Lembaga Pemerintah lainnya, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional, Para anggota Ikatan Alumni Lemhannas, Undangan dan peserta Konvensi Nasional II Ikatan Alumni Lemhannas yang berbahagia.

Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wata'ala, karena hari ini dengan kemurahan-Nya kita dapat bersama-sama menghadiri Konvensi Nasional yang sangat penting ini. Pertemuan ini terasa sangat penting karena melalui forum ini akan dibahas upaya mencari sosok pemimpin nasional yang ideal dan dapat diterima oleh seluruh unsur bangsa Indonesia yang dikenal sangat heterogen, baik dari sisi bahasa, etnis maupun agama.

Selain itu, Konvensi Nasional ini memiliki nilai strategis, karena diselenggarakan bertepatan pada saat seluruh bangsa Indonesia sedang mempersiapkan diri menyongsong proses suksesi kepemimpinan nasional melalui Pemilihan Umum 2004.

Sebagai wahana demokrasi, Pemilu 2004 berbeda dengan Pemilu-pemilu yang pernah diselenggarakan sebelumnya di negeri tercinta ini. Dalam Pemilu kali ini rakyat secara langsung akan memilih anggota-anggota lembaga legislatif dan setelah itu rakyat secara langsung pula memilih Presiden dan Wakil Presiden.

Karena kedua lembaga tersebut saling terkait dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, saya berharap konvensi nasional IKAL ini dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berguna bagi berhasilnya penyelenggaraan Pemilu 2004 dan Pemilihan Presiden 2004-2009.

Saya menyadari, melakukan upaya semacam ini bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi menyangkut masalah sosok pemimpin nasional yang diharapkan mampu menghadapi berbagai permasalahan bangsa yang pada saat ini masih kita hadapi bersama.

Hadirin yang saya hormati, Harus kita akui secara jujur, dewasa ini bangsa Indonesia belum mampu terlepas sepenuhnya dari krisis multidimensi yang sedang kita hadapi bersama.

Di bidang ekonomi antara lain mencakup masalah pemerataan kesempatan kerja, rendahnya tingkat pendapatan dan kesejahteraan, besarnya hutang luar negeri, ketahanan pangan yang masih rentan, derajat kesehatan masyarakat yang relatif rendah serta kualitas pendidikan yang masih belum memadai.

Di bidang politik ditandai dengan masih maraknya KKN, permainan politik uang, ancaman terhadap ideologi Pancasila, tatanan politik yang belum baik, degradasi moral dan etika politik, serta penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) yang masih lemah.

Di bidang pertahanan dan keamanan (Hankam), ditandai dengan masih rawannya ancaman bahaya disintegrasi bangsa, angka kriminalitas yang masih tinggi baik kualitas maupun kuantitasnya, meluasnya peredaran narkoba serta penyelundupan dan perdagangan ilegal yang sulit diberantas. Krisis multidimensi yang dimulai dari krisis ekonomi telah berkembang menjadi krisis moral yang mengabaikan prasyarat bangsa mengisi kemerdekaan.

Dalam pengamatan saya, penyebab krisis ekonomi dapat diidentifikasi dari lima hal: Pertama, pendidikan belum menjadi visi pembangunan yang menciptakan daya saing, menciptakan nilai tambah dan menggerakkan kekuatan bangsa. Kedua, salah pengelolaan sumber kekayaan alam dan pinjaman luar negeri, sehingga tercipta ketergantungan pada negara luar. Bangsa kita belum mandiri. Ketiga, kebijakan pembangunan ekonomi mengabaikan pengembangan ekonomi rakyat kecil yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Keempat, pembangunan masih terpusat di Kawasan Barat Indonesia dibanding Kawasan Timur Indonesia sehingga masih menimbulkan kesenjangan pembangunan. Kelima, demokratisasi yang tidak taat hukum. Krisis ekonomi berakibat pada krisis moral. Kita menjadi bangsa yang tidak disiplin dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bahkan kebijakan otonomi daerah sebagai wahana demokratisasi dan desentralisasi pembangunan nasional belum berjalan secara baik. Penyelenggaraan otonomi daerah masih diwarnai oleh semakin munculnya sentimen etnis dan kedaerahan yang bisa mengancam wawasan kebangsaan apabila tidak dikelola secara baik. Hadirin yang saya hormati, Kita harus akui, penyebab utamanya terjadi krisis multidimensi karena kita telah mengabaikan pengamalan Pancasila.

Kita telah mengabaikan visi bangsa sendiri yaitu Pancasila. Kita tidak konsekuen dan konsisten untuk mewujudkan jatidiri kita yang tercermin dalam lima sila itu. Banyak dari Saudara-saudara kita tidak mengindahkan norma-norma agama, melupakan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban yang luhur, melupakan persatuan dan kebersamaan, enggan bermusyawarah, dan tidak peka terhadap keadilan sosial. Dalam kesempatan yang berbahagia ini, secara khusus saya ingin mengemukakan bahwa Pancasila sebagai dasar negara merupakan kompromi unik dan cerdas dari para pendiri Republik.

Sebagai dasar falsafah negara dan panduan bagi perjalanan bangsa, Pancasila dirumuskan secara mendalam dan telah melalui perjalanan historis yang panjang. Sebelum secara formal menjadi landasan kehidupan masyarakat Indonesia, Pancasila telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari setiap individu bangsa.

Itulah sebabnya Bung Karno tidak menyebut dirinya sebagai Pencipta Pancasila, melainkan sebagai Penggali Pancasila. Pancasila merupakan pedoman untuk menunjukkan betapa tinggi dan dalam filosofi landasan kehidupan bangsa Indonesia. Melalui Pancasila dirumuskan bukan saja hubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya, (hablum minan nas), tetapi juga antara manusia dengan Sang Pencipta (hablum minallah). Dalam perjalanan sejarah, Pancasila sering sekadar menjadi slogan atau bahkan diselewengkan untuk tujuan-tujuan tertentu, baik untuk tujuan politis ataupun kepentingan kekuasaan.

Saat ini sudah saatnya untuk memantapkan keberadaan Pancasila sebagai dasar kehidupan bangsa dan negara. Sekaligus menempatkan Pancasila sebagai landasan untuk mewujudkan Masyarakat Indonesia Baru yang Berkualitas dengan Memiliki Iman dan Takwa serta Akhlak yang Mulia. Pancasila merupakan panduan untuk mewujudkan hal itu. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan landasan moral bagi keempat sila lainnya: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Baik sila Kemanusiaan, Persatuan, Permusyawaratan Rakyat maupun sila Keadilan Sosial, harus dilaksanakan di bawah bimbingan moral dan berdasarkan atas prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila adalah dasar negara yang sudah final, sehingga kita tidak perlu berangan-angan mencari dasar negara yang lain sebagai pengganti Pancasila, karena Pancasila sudah menjadi pedoman hidup yang memayungi seluruh penduduk Indonesia yang sangat heterogen, dengan mayoritasnya beragama Islam.

Yang paling penting, bagaimana kita mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam langkah-langkah nyata yaitu dalam konsep, program, dan kegiatan ekonomi rakyat untuk membangun kemandirian bangsa. Hadirin yang saya hormati, Kelima permasalahan bangsa, termasuk pengabaian kita terhadap implementasi nilai-nilai yang terkandung dalam kelima sila Pancasila, yang saya sampaikan di atas adalah tantangan jangka pendek dari kita semua dan Pemimpin Nasional 2004-2009 yang akan dipilih rakyat Indonesia pada tahun ini secara langsung.

Oleh karena itu sosok pemimpin nasional 2004-2009 yang dibutuhkan adalah pemimpin yang mampu mengantarkan dirinya dan seluruh bangsa Indonesia: mampu menjabarkan visi Pancasila; mengelola sumberdaya nasional secara efektif; mewujudkan lembaga pembangunan yang efektif dan efisien; meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat secara merata dan berkeadilan; menegakkan hukum dan keadilan serta menyelenggarakan otonomi daerah secara benar.

Sosok pemimpin yang mampu menyelenggarakan tugas dan fungsi tersebut adalah pemimpin yang memiliki daya kenegarawanan dan keteladanan, yaitu pemimpin yang memenuhi empat syarat: 1. Siddiq yaitu jujur, benar, berintegritas tinggi dan terjaga dari kesalahan. 2. Fathonah yaitu cerdas, memiliki intelektualitas yang tinggi, dan profesional. 3. Amanah yaitu dapat dipercaya, memiliki legitimasi dan akuntabel. 4. Tabligh yaitu senantiasa menyampaikan risalah kebenaran, tidak pernah menyembunyikan apa yang wajib disampaikan.

Salah satu ciri dari sosok pemimpin yang memiliki empat syarat tersebut adalah pemimpin yang memiliki ketaatan yang tinggi dalam menjalankan ibadah. Dalam Islam, misalnya, pemimpin demikian adalah pemimpin yang senantiasa menjaga dan mendirikan shalat wajib lima waktu di awal waktu dan berjamaah secara istiqomah. Ciri inilah yang selalu saya sampaikan dalam berbagai kesempatan di manapun.

Hadirin yang saya hormati, Sesuai dengan tema, saya mengharap konvensi ini dapat menghasilkan sumbangan pemikiran yang berguna bagi lahirnya Sosok Pemimpin Nasional yang dibutuhkan bangsa dan negara ini yaitu pemimpin yang memiliki track record yang baik dan memenuhi kriteria sebagaimana saya sebutkan di atas.

Saya menghimbau kepada seluruh bangsa Indonesia agar dalam Pemilu 2004 mendatang menggunakan hak pilih dengan sebaik-baiknya. Jangan salah memilih. Pilihlah sosok Pemimpin Bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan bangsa dan negara yang "baldatun toyyibatun warabbun gaffuur", "Hamemayu Hayuning Buwono". Semoga pertemuan nasional ini dapat memberikan manfaat untuk semua pihak khususnya dalam upaya melakukan perubahan sosial guna mewujudkan kehidupan sosial dan tata negara yang lebih baik di masa mendatang.

Saya ucapkan selamat kepada seluruh peserta Konvensi, semoga dapat memberikan manfaat bagi kebangkitan bangsa untuk membangun Indonesia Baru, sehingga kita dapat kembali duduk sejajar dengan negara-negara beradab lainnya. Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, Konvensi Nasional II Ikatan Alumni Lemhannas Tahun 2004, saya nyatakan, resmi dibuka.

Selamat berkonvensi.
Wabiillahittaufiq wal hidayah Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yogyakarta, 31 Januari 2004

WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
H. HAMZAH HAZ



Sumber : IKAL
Dokumentasi Ikal 
Kategori:Ucapan Selamat 
Space Iklan 2
Home |  Profil & Sejarah |  Pengurus |  AD/ART |  Program |  Kontak |  Profil Alumni |  Berita |  Artikel
LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL INDONESIA   TENTARA NASIONAL INDONESIA - ANGKATAN DARAT   TENTARA NASIONAL INDONESIA - ANGKATAN LAUT   TENTARA NASIONAL INDONESIA - ANGKATAN UDARA   KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA  
Copyright ©2004-2010 - Ikatan Alumni Lemhannas - Hak Cipta dilindungi Undang-undang.
Powered by :INDOSAT M2